PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF

November 3, 2009 at 1:40 pm (Tugas Kuliah)

TUGAS

PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF

A. Pendahuluan.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses dan peristiwa yang setiap manusia dan individu pernah mengalaminya, bahkan peristiwa itu di alami oleh semua makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, dan tentunya juga manusia itu sendiri terutama pada masa kanak-kanak, proses pertumbuhan dan perkembangan berkembang begitu cepat, perubahan yang pada diri seseorang meliputi perubahan fisik, berfikir, berbahasa, berperilaku, dan lain-lain.

Pertumbuhan dan perkembangan yang baik akan menjadi modal bagi kelangsungan anak sebagai generasi penerus yang baik, dan begitu juga sebaliknya. ( Aziz Alimul Hidayat. Musrifatul Uliyah, 2005; Gerald B. Merenstein, David W. Kaplan, Adam A. Rosenborg, Alih Bahasa Hunardja, 2002 ).

Banyak faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, remaja, dan dewasa. Faktor tersebut dapat berupa faktor positif dan negatif. Faktor yang berpengaruh positif seperti intake nutrisi yang baik dan seimbang, pemeliharaan kesehatan yang baik, pola pengasuhan yang baik, serta kondisi lingkungan yang baik dan sehat. Sedangkan faktor negatif seperti kemiskinan, keterlantaran, ketunasosialan, layanan kesehatan yang jelek. Oleh karena itu harus diusahakan agar anak dan remaja dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga kelak di kemudian hari akan menjadi individu dewasa yang sehat.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Nilai Anak.

Semua potensi yang ada pada perseorangan, keluarga, kelompok masyarakat dan pemerintah harus secara bersama-sama digunakan untuk memecahkan masalah sosial strategis agar dapat menjamin meningkatnya taraf kesehatan dan kesejahteraan.

Nilai anak bagi kepentingan keluarga dan masyarakat, dari beberapa sumber ( Aziz Alimul Hidayat, Musrifatul Uliyah, 2005, Siswono Yudo Usodo, 2004; Harsono Satimo, 1994 ) adalah sebagai berikut:

  1. Nilai anak dilihat dari segi kepentingan keluarga

a) Anak diperlukan untuk kelangsungan, kesinambungan dan kebanggaan hidup orang tua dan keluarga.

b) Anak merupakan pusat perhatian dan kasih sayang orang tua.

c) Sebagai tali pengikat hubungan suami istri dan sebagai sumber kebahagiaan keluarga.

  1. Nilai anak dilihat dari segi kepentingan nasional
  1. Anak sebagai harapan dan generasi penerus bangsa.

b) Anak merupakan modal utama pertumbuhan dan perkembangan dan kelangsungan serta kesinambungan hidup bangsa.

  1. Nilai anak dilihat dari segi kepentingan umum.
  1. Anak merupakan tumpuan harapan bagi kelangsungan hidup manusia.
  2. Kedudukan anak dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa erat kaitannya dengan bidang sosial, ekonomi, psikologi bahkan juga politik.
  1. Pertumbuhan Anak.
        1. Pengetian Pertumbuhan Anak.

Pertumbuhan berkaitan dengan bertambanya ukuran berbagai organ tubuh (fisik) yang disebabkan oleh peningkatan ukuran masing-masing sel dalam kesatuan sel yang membentuk organ tubuh atau bertambahnya jumlah keseluruhan sel atau keduanya. Definisi lain tentang pertumbuhan sebagai bertambahnya ukuran fisik dan struktural tubuh, dalam arti sebagian atau keseluruhan, karena adanya multiplikasi sel dan atau karena bertambahnya sel ( sifatnya kuantitatif ). ( Nelson, 1988; Moersintowarti, 1991, 1993; Djauhar Ismail, 1993 ).

Batasan pertumbuhan yang disampaikan diatas, dapat diambil beberapa hal penting, yaitu :

        1. Pertumbuhan merupakan perubahan pada organ fisik, bukan aspek non fisik.
        2. Organ fisik yang mengalami perubahan berkaitan dengan bertambahnya ukuran dan struktur fisik.
        3. Sifat perubahan organ fisik karena peningkatan ukuran fisik, bukan penurunan ukuran fisik.
        4. Ukuran dan struktur fisik dapat berbentuk berat, tinggi, panjang badan, ukuran besarnya organ tubuh tertentu seperti dada, kepala, kaki, dan sebagainya.
        5. Perubahan organ fisik terjadi karena pertambahan jumlah keseluruhan sel atau peningkatan ukuran masing-masing sel dalam kesatuan sel yang membentuk organ tubuh.
        1. Cakupan Pertumbuhan Bayi dan Anak.

Bayi yang lahir cukup bulan yaitu dengan umur kehamilan 40 minggu dan kalau keadaan sehat atau sempurna akan mempunyai tanda-tanda sebagaii berikut ( Edhi Dharma, endang Sumirih, t.th. ): Panjang badan antara 48-50 cm; Berat badan antara 2500-3500 gram; Warna merah; Terdapat jaringan atau lapisan lemak dibawah kulit; Menangis kuat; Pernafasan kuat dan dalam; Bergerak kuat atau aktif; Kulit dan otot kenyal; Mengisap kuat; Kuku jari tangan tumbuh sempurna; Rambut kecil dibagian kepala ( lanugo ) sebagaian sudah rontok; Batas rambut kepala sudah tampak jelas.

Sebaliknya tanda-tanda bayi yang kurang umur diantaranya : Panjang badan kurang dari 48 cm; Berat badan kurang dari 2500 gram; Warna pucat; Tidak ada atau sedikit sekali lapisan lemak dibawah kulit; Menangis lemah atau merinih; Pernafasan lemah atau pendek; Bergerak lemah; Kulit keriput; Wajah seperti orang tua; Kulit dan otot kendor; Mengisap lemah; Kepala tidak sesuai dengan tubuh yaitu kepala lebih besar dari tubuh.

Pola kecepatan pertumbuhan tinggi badan pada anak perempuan dan laki-laki mulai lahir hingga dewasa. ( Dikutip dari Foetus into Man, Tanner, 1978, dalam Harsono Salimo, 1994 ) adalah sebagai berikut :

  1. Masa pertumbuhan yang cepat ( 0-2 tahun ).
  2. Masa pertumbuhan lambat ( >2-12 tahun ).
  3. Masa pertumbuhan cepat kembali ( >12-18 tahun ).
  4. Selanjutnya menjadi pertumbuhan lambat sempai berhenti pada umur 18 tahun, sedang pada pria sampai umur 20 tahun.

Pertumbuhan tersebut adalah khas tidak hanya mengenai petumbuhan tinggi dan berat badan, tetapi juga meliputi pertumbubuhahan alat-alat tubuh lainnya yang mengikuti pola pertumbuhan masing-masing. Ada pertumbuhan pola umum, pola Limfoid, pola neural dan pola genital ( Gerald B. Merenstein, David W. Kaplan, Adam A. Rosenberg, Alih Bahasa Hunardja, 2002 ).

Pertumbuhan tubuh sesudah lahir menurut beberapa sumber ( Gerald B. Merenstein, David W. Kaplan, Adam A. Rosenberg, Alih Bahasa Hunardja, 2002; Harsono Salimo, 1994; Djauhar Ismail, 1993 ). Alat tubuh yang mengikutii pertumbuhan secara pola umum adalah otot skelet ( tulang rangka ), tulang panjang, sistem pencernaan, sistem pernafasan, peredaran darah, dan volume darah. Otot jantung relatif besar untuk anak, akan mengikuti pola umum. Testis dan ovarium mengikuti poal genital, sedang uterus dan kelenjar adrenal yang berpengaruh pada pertumbuhan tanda kelamin sekunder, semula relatif besar yang akhirnya mengalami involusi pada minggu-minggu pertama setelah lahir selanjutnya akan mengikuti pola genital.

Susunan saraf dan pelindungnya mengikuti pola neural. Perubahan-perubahan terjadi pada jaringan otot yang semula pada neonatus 20-25% berat badan menjadi 40% berat badan orang dewasa. Berarti ada pertumbuhan 30 kali lipat, seimbang dengan berat badan orang dewasa yang 20-25 kali berat bada neonatus.

Jaringan otak akan bertambah 4 kali lipat daripada jaringan otak neonatus. Waktu lahir berat otak bayi hanya seperempat berat dari otak orang dewasa, tetapi jumlah sel sudah mencapai 2 pertiga dari otak orang dewasa. Hal ini disebabkan karena pertambahan sel otak dengan cepat terjadi sejak masa janin dan berlangsung terus sampai bayi berumur kira-kira 10 bulan.

Pertumbuhan tulang selain mengalami pertumbuhan memanjang yang akan menentukan tinggi badan, juga mengalami pertumbuhan melebar dan maturasi. Maturasi skelet ini akan mengikuti pola umum dan ada korelasi dengan maturasi seksual dan tubuh keseluruhan. Gambaran radiologik tulang merupakan indeks pertumbuhan umum untuk menentukan umur tulang. Pada umumnya gambaran radiologik tangan dan pergelangan tangan sudah cukup sebagai alt ukur kronologik pertumbuhan.

Pertumbuhan tulang kepala sesuai dengan pertumbuhan organ yang dilindungi yaitu otak. Pertumbuhan ini mempunyai arti tersendiri, karena pada umur 9 bulan pertumbuhan sel neuron sudah melambat dan besarnya tengkorak sudah mencapai 3/4 nya dan pada umur 6 tahun sudah mendekati ukuran orang dewasa.

Pertumbuhan jaringan lemak melambat sampai anak berumur 6 tahun, anak kelihatan kurus atau langsing. Pertambahan jaringan lemak akan bertambah lagi pada anak perempuan umur 8 tahun dan laki-laki 10 tahun sampai menjelang awal pubertas. Setelah itu pertumbuhan lemak berkurang pada anak laki-laki sedangkan pada anak perempuan terus bertambah dan mengalami reorganisasi.

Pada masa remaja terjadi perbedaan pertumbuhan lebih lanjut pada pertumbuhan tungkai memanjang dan melebar. Pada anak laki-laki, bahu tumbuh melebar dan badan memanjang dan terjadi pula perubahan-perubahan pada alat genetalia externa ( alat kelamin luar ). Sedang pada anak perempuan panggul menjadi lebih lebar dan payudara tumbuh. Tingkat maturasi seks terbukti ada korelasi dengan tingkat maturasi tulang dan biologik lain.

        1. Cara Pengukuran Pertumbuhan

Parameter dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan seseorang, yang paling sering digunakan adalah ukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala ( Nelson, 1988 ).

4. Manifestasi Gangguan Pertumbuhan

Manifestasi gangguan pertumbuhan adalah suatu pertumbuhan yang terganggu. Artinya suatu pertumbuhan bayi dan anak yang apabila dibandingkan dengan pertumbuhan bayi dan anak pada umumnya menunjukkan adanya penyimpangan/kelainan. Misalnya berat badan bayi yang lebih ringan atau lebih berat dibandingkan bayi lain sebayanya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya gangguan pertumbuhan adalah faktor genetik, hormonal dan lingkungan, terutama nutrisi (Djauhar Ismail,1993).

Menurut Moersintowati B Nerendra (1993) manifestasi gangguan pertumbuhan dapat dalam bentuk berikut:

  1. Terjadinya retardasi pertumbuhan konstitusional, misalnya pada kelainan osteopati herediter (kelainan tulang bawaan), chondrodystrofis (kelainan jaringan tulang rawan), jenis drawfisme intra uterin (cebol dalam rahim), dsb.
  2. Retardisi pertumbuhan hormonal (endoktrin) yang sifatnya
  1. Dikendalikan secara hormonal oleh hormon pertumbuhan, somatomedin yang dibentuk dihati, tiroid dan lainya yang berpengaruh pada pertumbuhan.
  2. Mempunyai dampak klinis: dwarfisme/kretin karena defect hormon pertumbuhan, hipotiroidisme, hormon sex yang abnormal, akibat disinfeksi iodium, dsb.
  1. Retardisi pertumbuhan akibat deprivasi maternal.
  2. Retradisasi pertumbuhan karena metabolisme, misalnya penyakit saluran cerna yang kronis, gangguan kardio vaskuler, anemia, kelainan ginjal, dsb.

Berbagai bentuk kelainan pertumbuhan tersebut diatas, secara umum si anak memiliki perawakan pendek. Masalah perawakan pendek dinegara sedang berkembang termasuk indonesia saat ini berbeda dengan negara maju. Di negara berkembang, terutama di indonesia, masih menitik beratkan pada perawakan pendek (Moersintowati, 1993) sebagai akibat dari kurang gizi dan seringnya terjadii infeksi.

Sementara itu Gerald B. Merenstein, David W. Kaplan, Adam A. Rosenberg , Alih Bahasa Hunarja (cet. 2002) manifestasi gangguan pertumbuhan dapat dalam bentuk:

  1. postur tubuh pendek, bik karena pertumbuhan dan masa remaja tertunda yang bersifat konstitusional, defisiensi hormon pertumbuhan, retardisi pertumbuhan intrauterin, karena faktor emosional.
  2. Gejala tumbuh kembang, seperti berat badan sangat kurang.
  3. Postur tubuh tinggi.
  4. Diabetes Insipidus, dengan gejala seperti rasa haus yang hebat, konstipasi (tertahanya tinja dalam usus karena gerak usus lemah), dan tanda-tanda dehidrasi.
  5. Prekoksitas seksual atau perkembangan seksual sekunder lebih dini , seperti pada wanita kurang dari 8 tahun, laki-laki kurang dari 9 tahun.
  6. Gangguan gonand atau gangguan kelenjar kelamin.
  7. Testis tidak turun kebawah.
  8. Sindrom kinefelter yang diantara gejalanya yang bersangkutan mengalami retardasi mental ringan dan kemampuan psikososial yang buruk.
  9. Adanya penyakit tiroid, seperti:
  1. Gondok dengan gejala adanya nodul (benjolan) yang besar dan keras disertai penurunan daya konsentrasi/ retardasi mental, gangguan sexsual, semangat yang menurun dan lain sebgainya.
  2. Hipotirodisme kongenitalataupun akuisida, dengan gejala dapat membentuk penurunan mental, kulit pucat, kering, kasar, lidah besar, tonus otot jelek, retardasi pertumbuhan dan perkembangan, gangguan seksual, rambut tampak kering dan rapuh, dsb.
  3. Hipertirodisme dengan gejala dalambentuk kombinasi dari kecemasan, tremor pada tangan, penurunan berat badan, prestasi sekolah yang buruk.
  1. Kretinisme, dengan gejala dapat kombinasi dari gejala-gejala badan pendek, retardasi mental, spastisasi dan cara berjalan yang khas, gangguan p endengaran, gangguan bicara dan lain-lain.

5. Hubungan Gangguan Pertumbuhan Anak dengan Kejadian Kelainan.

Gangguan pertumbuhan sebagaiman diskripsi dimuka, sebagian besar sudah dalam bentuk kelainan, sepeti perawakan tubuh pendek, kretinisme, hipotiroidisme kongenital, retardasi tubuh pendek, kretinisme, hipotirodisme konginental, retardasi mental, kelainan pendengaran, dan sebagainya. Meskipun ada juga ganguan pertumbuhan yang tidak dalam bentuk kelainan yang menjadi kajian pendidikan luar biasa/ pendidikan khusus, seperti ganguan gonand atau gangguan kelenjar kelamin, kriptorkdismus, atau testis yang tidak turun kebawah, berat badan sangat kurang dan sebagainya.

Gangguan pertumbuhan memilki kolerasi dengan kejadian kelainan, karena keduanya dapat saling memberikan pengaruh. Artinya gangguan pertumbuhan dapat menyebabkan seseorang menjasi kelainan, demikian sebaiknya.

Gangguan pertumbuhan bersifat sementara, adapula yang menetap (Harsono Salimo,1994, Moersintowati,1993, Departemen kesehatan,1999). Pada kasus tertentu, anak yang mengalami gangguan pertumbuhan setalah memperoleh intake nutrisi tertentu akhirnya dia dapat mengejar ketertinggalanya, sehingga gangguan pertumbuhan yang ada menjadi hilang, dan pertumnbuhanya kembalai normal. Ada gangguan pertumbuhan yang dalam perkembanganya tetap saja ada hambatan, sehingga gangguan pertumbuhan itu menjadi menetap dalam bentuk kelainan.

Hasil penelitina Abdul Salim (1999) menunjukkan bahwa dari sejumlah sampel yang diteliti anak kreatin memiliki ciri-ciri gabungan dari beberapa gejal seperti pembesaran kelenjar tirioid, memilki intelegendsi subnormal, gangguan pendegaran, gangguan bicara, gangguan fungsi anggota gerak, gangguan penglihatan, dan gangguan pertumbuhan.

Dari penjelasan diatas menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan dapat menjadi predis posisi terjadinya kelainan, baik dalam soektrum yang berat, sednag , maupun ringan.

6. Cara intervensi Gangguan Pertumbuhan

Apabila gangguan pertumbuhan telah terjadi, menurut Nelson (1988), depkes (2000) dan Bambang Hartono (1993) maka interfensinya adalah:

  1. Interfensi medik spesifik, yaitu intervensi medik yang disesuaikan dengan kekhususan permasalahan medik yang terjadi.
  2. Pemberian susunan makanan khusus, sesuai dengan masalah gangguan pertumbuhan, umur, dan jenis kelamin.
  3. Pengobatan megavitamin
  4. Suplai zat gizi mikro
  5. Interfensi terapi bicara dan bahasa, terapi akup[asi, terapi fisik, terapi psikis, dan lainya.

7. Peran Guru PLB dalam Intervensi Gangguan Pertumbuhan

Gangguan pertumbuhan yang telah menetap, sehingga tidak dapat diperbaiki kembali pertumbuhanya, maka peran guru PLB adalah sebagai konsultan dalam program rehabilitasi dan Habilitasi. Sebagai pelaksana bidang rehabilitasi tertentu, serta sebagai pihak yang merujukkan anak ke ahli lain, baik pada aspek rehabilitasi/habilitasi sosial, psikologis, edukatif, maupun ketrampilan.

8. Habilitasi dan Rehabilitasi Anak Kelainan Pertumbuhan

Rehabilitasi merupakan upaya memberikan kemampuan kembali melalui bantuan medik, sosial, psikologi, dan ketrampilan yang diselenggarakan secara terpadu bagi anak yang memiliki kelainan agar dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Sementara itu habilitasi merupakan upaya memberikan kemapuan melalui bantuan medik, sosial, dan keterampilan yang diselenggaran secara terpadu bagi peserta didik yang memilki kelainan agar dapat mencapai kemampuan fungsional yang seoptimal mungkin. Program habilitasi terutama untuk pengembangan kemampuan anak pada aspek pendidikan dan ketrampilan, termasuk ketrampilan dalam menolong dan merawat diri terangkum dalam program bina diri.

  1. Perkembangan Anak
  1. Pengertian Perkembangan Anak

Perkembangan dapat diartikan sebagai bertambahnya kemampuan daalm struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola yang teratur dan dapat diperkirakan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel dan jaringan tubuh, organ dan sistemnya yang terorganisasi sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat berfungsi (sifatnya kualitatif). (Nelson, 1988, Moersintowati, 1991:1993)

Perkembangan merupakan suatu proses pematangan majemuk yang berhubungan dengan Diferensiasi bentuk atau fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi (Suharti Agusman, Samsudin, 1985; Sudianto, 1985). Dengan demikian proses perkembangn termasuk berhubungan dengan aspek non fisik sepertii kecerdasan, tingkah laku (Jack Insley, Ahmad Suryono, Cet.2005).

  1. Cakupan Perkembangan Anak
  1. Teori perkembangan psikososial

Ericson (1958) mengembangkan teori perkembangan psikososial, ia menempatkan fungsi ego sebagai sumber utama perkembangan anak dalam interaksinya dengan lingkungan. Ericson juga membagi proses perkembangan anak kedalam delapan tahapan perkembangan dari bayi sampai tua yaitu:

1. Kepercayaan (basic trust) melawan ketidakpecayaan: 0 – 1,5 tahun.

2. Otonomi melawan kebimbangan dan rasa malu: > 1,5 – 3 tahun.

3. Inisiatif melawan rasa bersalah: > 3 – 6 tahun.

4. Industri melawan rasa rendah diri: > 6 – 12 tahun.

5. Identitas melawan kekaburan peran: >12 – 18 tahun.

6. Keintiman melawan isolasi: dewasa muda.

7. Kedermawanan melawan stagnasi: usia setengah umur.

8. Integritas melawan putus asa: Tua

  1. Teori Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif adalah kemampuan manusia menerima, mengubah dan menggunakan berbagai informasi mengenai dunia sekitarnya. Kemampuan kogitif adalah kemampuan berfikir atau intelegensi manusia. Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif individu dapat dari faktor intern dan ekstern. Pieget membagi perkembangan kognitif menjadi 4 fase besar yaitu:

  • Fase sensori motorik : 0 – 1.5 tahun
  • Fase pra-operasional : 2 – 7 tahun
  • Fase Operasional konkrit : > 7 – 11 tahun
  • Fase operasional formal : > 11 – 15 tahun
  1. Teori Humanistik

Pada hakekatnya manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan membentuk perilakunya. Oleh karena itu, setiap menusia bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang untuk mencapai aktualisasi diri. Menurut Maslow, kebutuhan manusia bertingkat-tingkat, yang diawali dengan kebutuhan biologik/faal, kebutuhan rasa aman, kebutuhan pengakuan. Dan yang paling tinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri ( Roos dan Nico, 1980 ).

Jenjang kebutuhan Apabila di gambarkan adalah sebagai berikut :

Self Actualization
Esteem
Belongingness and Love
Safety
Psycological needs

Bertolak dari beberapa teori perkembangan dimuka, dapat di ringkas bahwa secara eklektik-holistik perkembangan anak adalah suatu proses perubahan yang menyeluruh, artinya hampir menjangkau seluruh aspek kehidupan anak. Perubahan pada satu aspek maka akan dapat mempengaruhi aspek yang lain.

Perkembangan anak merupakan proses perubahan yang menyeluruh tersebut meliputi berbagai dimensi yang merupakan cakupan perkembangan anak, yaitu ( Depkes, 1989; Abdul Salim, 2000; Jack Insley, Alih Bahasa Ahmad Suryono, Cet. 2005 ).

  • Perkembangan Gerak Kasar
  • Perkembangan Gerak Halus
  • Perkembangan Kognitif
  • Perkembangan Sosial

Sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan di muka, bahwa perkembangan anak memiliki karakteristik tertentu, yang umumnya berlaku dan dii alami oleh seluruh anak, yaitu:

  1. Perkembangan anak berlangsung menurut pola tertentu.
  2. Ada perbedaan individual dalam perkembangan.
  3. Perkembangan dini merupakan fondasi bagi perkembangan berikutnya.
  1. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Anak

Secara umum, status kesehatan individu menurut Bloom ( 1974, dalam Abdul Salim, 2000 ) dipengaruhi oleh faktor-faktor: (a) keturunan,(b) Lingkungan,(c) Faktor Perilaku, (d) Faktor Pelayanan/Fasilitas Kesehatan. Pengaruh dari keempat faktor tersebut diatas dapat secara langsung ataupun tidak langsung, atau secara sendirii maupun secara bersama-sama. Pengaruh masing-masing faktor tersebut dapat digambarkan menjadi sebagai berikut:

 

 

Menurut Endang Warsiki ( 1991, dalam Abdul Salim, 2000 ) perkembangan balita dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu:

(a) faktor Mikro Kosmos, seperti: sifat dasar konstitusi anak sejak lahir; keadaan biologik anak, misalnya kekurangan enzim/hormon, kelainan organik.

(b) faktor Makro Kosmos ( keadaan lingkungan anak ), seperti : orang tua/ keluarga, teman bermain, masyarakat.

  1. Cara Pengukuran Perkembangan Anak

Pengukuran perkembangan anak adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengikuti perkembangan kemampuan anak. Tujuannya adalah agar apabila terjadi gangguan perkembangan pada anak dapat diketahui sedini mungkin. ( (Depkes. RI, 1990, Jack Insley, Cet. 2005 ).

Pengukuran perkembangan dapat menggunakan bermacam-macam instrumen, seperti Denver Development Screening Test ( DDST ). DDST adalah salah satu dari metode screening terhadap kemungkinan adanya penyimpangan darii perkembangan. Pengertian screening didasarkan atas penggunaan suatu tes yang cepat dan mudah dilaksanakan terhadap suatu populasi tertentu.

Departemen Kesehatan RI, sudah lama mengembangkan instrumen pemantauan perkembangan anak balita dan usia prasekolah, seperti deteksii kelainan ( 1986 ), deteksi dini perkembangan ( 1989 ) dan pemantauan perkembangan ( 1990 ). Instrumen yang dikembangkan tahun 1986, lebih menekankan upaya menemukan kelainan anak secara dini yang kurang mendukung perkembangan anak. Seperti mengukur resiko keluarga, mengetahui ada tidaknya kelainan penglihatan, pendengaran, perilaku anak, dan tahapan perkembangan anak. Sementara tahun 1989 dan 1990 lebih menekankan pada upaya mengetahui gangguan perkembangan kemampuan anak yang meliputi aspek:

(a) kemampuan gerak kasar.

(b) kemampuan gerak halus.

(c) kemampuan bicara, bahasa, dan kecerdasan.

(d) pergaulan dan percaya diri.

Tahapan Perkembangan Menurut Kelompok Umur dan hasil

Pemeriksaan Tahapan Perkembangan

Kelompok Umur Tahapan Perkembangan Yang Diperiksa Hasil Pemeriksaan
Ya Tidak
0 – 3 bulan Mampu menggerakkan kedua tungkai dan lengan sama mudahnya

 

 

Memberikan reaksi dengan melihat sumber cahaya

 

 

Mengeluarkan suara mengoceh

 

 

Membalas senyuman

 

 

>3 – 6 bulan Mangangkat kepala tegak pada posisi telungkup

 

 

 

Dapat menggenggam benda yang disentuhkan pada punggung / ujung jarinya.

 

 

 

Mencari sumber suara yang keras

 

 

 

Membalas senyuman

 

 

>6 – 9 bulan Dapat mempertahankan posisi duduk dengan kepala tegak

 

 

 

Maraih benda yang menarik

 

 

 

Mengenali orang lain, takut orang yang belum kenal

 

 

>9 – 12 bulan Mampu berdiri dengan pegangan

 

 

 

Dapat mengambil benda sebesar biji jagung

 

 

 

Dapat mengatakan pa-pa dan ma-ma

 

 

 

Bermain “ci-luk-ba”

 

 

>12 – 18 bulan Berjalan sendiri tanpa jatuh

 

 

 

Dapat mengungkap keinginan yang sederhana

 

 

 

Minum dari gelas sendiri tanpa tumpah

 

 

>18 – 24 bulan Dapat menendang bola

 

 

 

Mencoret – coret dengan alat tulis

 

 

 

Menunjuk bagian tubuh dengan benar

 

 

 

Meniru pekerjaan rumah tangga

 

 

>2 – 3 tahun Berjalan naik turun tangga

 

 

 

Mampu melepas pakaian sendiri

 

 

 

Manyebut namanya sendiri

 

 

 

Makan dan minum sendiri

 

 

>3 – 4 tahun Berdiri dengan satu kaki

 

 

 

Menggambar lingkaran

 

 

 

Menyebut nama panggilan orang lain

 

 

 

Buang air besar dan kecil sendiri pada tempatnya

 

 

>4 – 5 tahun Melompat dengan 1 kaki

 

 

 

Mengancingkan baju sendiri

 

 

 

Bisa bercerita

 

 

 

Berpakaian sendiri

 

 

>5 -6 tahun Menangkap bola sebesar bola kasti

 

 

 

Menggambar bentuk segi empat

 

 

 

Mengenal angka, huruf, dan menghitung 1 – 10

 

 

 

Mengenal dan mematuhi peraturan sederhana

 

 

  1. Manifestasi Gangguan Perkembangan Anak di Indonesia

Manurut Moersintowarti ( 1993 )gangguan perkembangan balita adalah suatu perkembangan balita yang apabila dibandingkan dengan pola perkembangan balita standard menunjukkan adanya perkembangan balita yang terlambat / menyimpang dari pola perkembangan anak normal. Ada 2 bentuk gangguan perkembangan yaitu :

(a) gangguan perkembangan. Meliputi : gangguan motorik kasar, bicara, belajar, psikologis dengan manifestasi fisik, makan, BAB, cemas, dan lain-lain.

(b) Kelainan.

  1. Hubungan Gangguan Perkembangan Anak dengan Kejadian Kelainan

Gangguan perkembangan dapat menjadi faktor predisposisi atas terjadinya kelainan ( Nelson, 1988 ). Oleh karena itu program intervensi bagi anak yang diketahui mengalami gangguan perkembangan semestinya segera dilakukan, sebelum anak yang bersangkutan menjadi cacat.

  1. Cara Stimulus Gangguan Perkembangan

Stimulus perkembangan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan, sehingga anak dapat bekembang kemampuannya secara optimal ( Depkes. RI, 1990 ). Manfaat stimulus kemampuan adalah :

  • Untuk membantu anak mencapai tingkat perkembangan optimal.
  • Menghindari kelembatan perkembangan, sehingga tidak terjadi gangguan lebih lanjut.
  • Meningkatkan kemampuan orangtua/Ibu dalam menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan ( Depkes. RI, 1989, 1990 ).
  1. Peran Guru PLB dalam Stimulus Gangguan Perkembangan Anak

Guru PLB dapat sebagai tempat rujukan setelah anak dilakukan skrining / penjaringan. Disini Guru PLB berperan sebagai profesional yang melakukan asesmen dan mendiagnosis gangguan perkembangan anak. Selain itu, peran guru juga sebagai pelaksana dalam kegiatan stimulus perkembangan. Peran lain Guru PLB dalam stimulus gangguan perkembangan anak adalah sebagai konsultan.

  1. Habilitasi dan Rehabilitasi Kelainan Perkembangan

Bagi anak berkelainan perkembangan. Ada banyak bentuk program habilitasi dan rehabilitasi, yaitu:

(a) Pemenuhan kebutuhan peralatan khusus seperti untuk tuna netra membutuhkan tongkat putih, reglet, ketik Braille.

(b) Bimbingan pengguanaan alat bantu khusus.

(c) Bimbingan pemecahan masalah, seperti bimbingan keagamaan.

(d) Pelayanan pendidikan.

(e) Latihan dan bimbingan vokasional.

( f ) Program terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS II

  • DESKRIPSI PERTUMBUHAN

Pertumbuhan adalah proses peningkatan yang ada pada diri seseorang yang bersifat kuantitatif atau peningkatan dalam hal ukuran. Mengenai pertumbuhan fisik disitu ada peningkatan ukuran tinggi atau berat badan. Contoh: bertambahnya tinggi badan, lebar bahu, lebar panggul, ketebalan dada, dan berat badan. Peningkatan tinggi dan berat bada dihasilkan dari peningkatan kesempurnaan unit-unit biologis, dan bukan dihasilkan dari terbentuknya bagian baru dari anggota-anggota badan atau unit-unit biologis. Pertumbuhan kadang digunakan daalm kaitannya dengan kemampuan intelektual dan sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik antara lain: keturunan, pengaruh gizi, pengaruh perbedaan suku, pengaruh musim dan iklim, pengaruh penyakit, pengaruh himpitan psikososial, pengaruh urbanisasi, pengaruh jumlah keluarga dan status sosial ekonomi, serta kecenderungan sekular.

  • DESKRIPSI PERKEMBANGAN

Perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh kearah keadaan yang amkin terorganisasi dan terspesialisasi.

Misalnya:

  • Bayi yang belum bisa berjalan kemudian meningkat menjadi bisa berjalan tertatih-tatih 2 atau 3 langkah pada saat mengawali masa anak kecil dan selanjutnya menjadi bisa berjalan dengan gerakan yang lancar sampai beberapa langkah.
  • Pada anak kecil mula-mula baru bisa memegang bola dan belum bisa memantul-mantulkannya ke lantai, kemudian menjadi bisa memantul-mantulkannya sekali dua kali, selanjutnya bisa melakukannya dengan gerakan yang lancar menggunakan dua tangan atau satu tangan berulang kali tanpa terlepas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu antara lain: pengaruh kondisi ibu terhadap perkembangan janin, pengarugh gizi, pengaruh aktivitas fisik dan kondisi emosional, pengaruh penyakit, dan pengaruh obat-obatan, alkohol, serta rokok.

    • GANGGUAN-GANGGUAN PERTUMBUHAN

Gangguan pertumbuhan adalah suatu pertumbuhan yang terganggu. Contoh gangguan pertumbuhan sebagai berikut:

        1. Terjadinya retardasi pertumbuhan konstitusional, misalnya pada kelainan osteopati herediter (kelainan tulang bawaan), chondrodystrofis (kelainan jaringan tulang rawan), jenis drawfisme intra uterin (cebol dalam rahim), dsb.
        2. Retardisi pertumbuhan hormonal (endoktrin) yang sifatnya
        1. Dikendalikan secara hormonal oleh hormon pertumbuhan, somatomedin yang dibentuk dihati, tiroid dan lainya yang berpengaruh pada pertumbuhan.
        2. Mempunyai dampak klinis: dwarfisme/kretin karena defect hormon pertumbuhan, hipotiroidisme, hormon sex yang abnormal, akibat disinfeksi iodium, dsb.
        1. Retardisi pertumbuhan akibat deprivasi maternal.
        2. Retradisasi pertumbuhan karena metabolisme, misalnya penyakit saluran cerna yang kronis, gangguan kardio vaskuler, anemia, kelainan ginjal, dsb.

e) Postur tubuh pendek, bik karena pertumbuhan dan masa remaja tertunda yang bersifat konstitusional, defisiensi hormon pertumbuhan, retardisi pertumbuhan intrauterin, karena faktor emosional.

f) Gejala tumbuh kembang, seperti berat badan sangat kurang.

g) Postur tubuh tinggi.

h) Diabetes Insipidus, dengan gejala seperti rasa haus yang hebat, konstipasi (tertahanya tinja dalam usus karena gerak usus lemah), dan tanda-tanda dehidrasi.

i) Prekoksitas seksual atau perkembangan seksual sekunder lebih dini , seperti pada wanita kurang dari 8 tahun, laki-laki kurang dari 9 tahun.

j) Gangguan gonand atau gangguan kelenjar kelamin.

k) Testis tidak turun kebawah.

l) Sindrom kinefelter yang diantara gejalanya yang bersangkutan mengalami retardasi mental ringan dan kemampuan psikososial yang buruk.

m) Adanya penyakit tiroid, seperti:

– Gondok dengan gejala adanya nodul (benjolan) yang besar dan keras disertai penurunan daya konsentrasi/ retardasi mental, gangguan sexsual, semangat yang menurun dan lain sebgainya.

– Hipotirodisme kongenitalataupun akuisida, dengan gejala dapat membentuk penurunan mental, kulit pucat, kering, kasar, lidah besar, tonus otot jelek, retardasi pertumbuhan dan perkembangan, gangguan seksual, rambut tampak kering dan rapuh, dsb.

– Hipertirodisme dengan gejala dalambentuk kombinasi dari kecemasan, tremor pada tangan, penurunan berat badan, prestasi sekolah yang buruk.

n) Kretinisme, dengan gejala dapat kombinasi dari gejala-gejala badan pendek, retardasi mental, spastisasi dan cara berjalan yang khas, gangguan p endengaran, gangguan bicara dan lain-lain.

  • GANGGUAN-GANGGUAN PERKEMBANGAN

Gangguan perkembangan adalah suatu perkembangan yang apabila dibandingkan dengan pola perkembangan standart menunjukkan adanya perkembanganyang terlambat atau menyimpang dari perkembangan normal.

Ada 2 bentuk gangguan perkembangan yaitu :

(a) gangguan perkembangan. Meliputi : gangguan motorik kasar, bicara, belajar, psikologis dengan manifestasi fisik, makan, BAB, cemas, dan lain-lain.

(b) Kelainan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: