Januari 5, 2010 at 1:41 pm (referensi) ()

CAPEK, tapi menyenangkan. Itu kalau mudik mau mengikuti ‘jalur umum’, alias naik omprengan kesana-kemari. Beda jika bawa mobil sendiri. Sejauh apapun perjalanan  yang ditempuh, rasanya tidak ada lelahnya. Hitung-hitung rekreasi alias Tour de Java bersama keluarga.

Tiga hari lalu, saya bersama anak dan istri, mudik ke rumah mertua di Kediri. Untuk naik bus Patas saja, kami harus menunggu hampir dua jam di Terminal Purabaya, Surabaya. Istirahat semalam, esok paginya saya sengaja jalan-jalan ke rumah famili di Kota Batu, Malang.

Perjalanan dari Kediri menuju Batu, amat menyenangkan walau kami harus berdiri di atas bus (seukuran metromini) lantaran padatnya penumpang. Udara nan sejuk, jalan berkelok dan hutan yang masih lebat, lumayan bisa buat mencuci mata. Dari Kediri, bus terus melaju ke arah Papar. Dari Papar lalu bergerak ke Kandangan. Nah, selepas Kandangan, mata jangan mau terpejam. Rugi besar booo…. Pemandangannya ehmm cukup apik.

Setengah jam lepas dari Kandangan, kami melihat Danau Selorejo nan begitu luas dari atas bukit. Sayangnya hutan pinus sudah mulai tak terlihat lagi. Di sepanjang jalan, masyarakat setempat (Desa Ngantang) lebih suka memanam pohon sengon yang setiap enam tahun sekali sudah bisa dipanen.

“Di sini memang lagi ngetrend. Banyak masyarakat kota yang datang kemari untuk membeli tanah. Sayangnya harganya sudah selangit. Per meter bisa mencapai Rp 2 juta. Lahan pertanian di sini cukup subur,” kata heru, warga Ngantang kepada saya.

Lepas dari Selorejo, bus terus bergerak naik menuju ke Pujon. Di daerah ini dikenal sebagai desa penghasil susu sapi. Dulu, hampir setiap hari sungai di sekitar Pujon berubah jadi putih karena susu yang ‘dipanen’ tak memenuhi standar kualitas untuk dijual di pabrik susu.. Akibatnya, susu tersebut dibuang begitu saja.

Sekarang, Pujon semakin berkembang. Kota yang dulunya sepi, mulai ramai dengan pertokoan. Ekonomi kerakyatannya juga tumbuh dengan pesat. Banyak warga yang mulai mendirikan warung tenda di sepanjang jalan, termasuk mengembangkan bisnis tanaman.

Sayangnya, selama dalam perjalanan saya tak lagi mendapati kebun apel. Padahal, Pujon dan Batu dulu dikenal sebagai daerah penghasil buah segar. Entah mengapa.. “Yang jelas, udara di sekitar Batu sekarang sudah tak lagi dingin. Lihat saja bukit-bukit yang dulunya hijau dikelupas menjadi perumahan,” tambah Heru.

Dari Pujon, bus terus merangkak. Kali ini melewati kawasan air terjun Cobanrondo. Jaraknya dari jalan raya menuju ke Cobanro9ndo sekitar 3 Km. Dulu kawasan ini benar-benar masih hijau dan menjadi daerah objek wisata andalan. Belakangan, banyak tanah menuju ke lokasi air terjun yang sudah diperjualbelikan. “Kemarin ada yang nawari saya. Per meternya Rp 35.000. Sebenarnya sangat cocok untuk menanam sengon,” tutur Novi, warga sekitar.

Dari Seloroje, bus merangkak ke bawah menuju kawasan wisata Songgoriti. Kawasan ini sekitar tahun 1990, menjadi primadona warga Surabaya, Malang, Mojokerto dan daerah lainnya. Belakangan, sejak menjamurnya vila sekitar tahun 1987 an, Songgoriti tak lagi diminati.. “Ingat enggak kampung yang menuju ke kawasan air panas di Songgoriti. Dulu kan banyak peternak sapi di kampung itu. Sekarang sudah menjadi rumah bordir. Banyak wanita nakalnya,” jelas Heru. Lha kok bisa? “Ya begitulah… Kayak Tretes. Kan awalnya hanya satu dua. Belakangan wsudah mulai menjamur. Saya saja yang tadinya punya vila disana dan sudah saya jual, ogah kok beli vila lagi di kawasan itu. Imagenya yang agak buram.”

Heru paham betul kawasan Songgoriti. Maklum, sejak kecil ia sudah menetap di daerah itu. Depan rumahnya, terhampar kaki-kaki gunung yang di bawah terdapat kebon apel, tomat dan berbagai macam buah lainnya. Sekarang, kaki kaki bukit itu sudah berubah warna menjadi rumah-rumah mewah nan menawan. Harumnya pohon pinus tak lagi tercium di hidung, begitu juga suara terompah kuda tak lagi terdengar di telingga.

Batu, kota administratif yang cukup menjanjikan untuk cuci mata, sekarang semakin menggeliat. Mall-mall bertebaran di sana-sini, begitu juga tempat penginapan. Selain bersih, kota ini memiliki ciri khas, penduduknya ramah dan cukup terbuka dengan pendatang..

Tak terasa bus yang kami tumpangi tiba di Ngandat. Rumah kakak saya terlihat berdiri kokoh di tepi jalan raya. Dulu, sekitar tahun 1980 an, tanah seluas 500 meter persegi itu ia beli dengan hargta di bawah Rp 5 juta. Sekarang, harganya selangit. Nongkrong di depan rumah sambil melihat lalu lalangnya kendaraan menuju Kota Batu, membangkitkan kenangan masa lalu, masa ketika masih kanak-kanak –naik dokar ke pasar, jalan-jalan ke pasar malam, curi apel di kebun tetangga. He… he… he…. (achmad subechi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: